Pasar
Bringharjo
Alamat: Jl. Pabringan 1, Yogyakarta 55122, IndonesiaPhone: (0274) 515 871, 561 510
ARSITEKTUR
Pasar Beringharjo menjadi sebuah bagian dari Malioboro
yang sayang untuk dilewatkan. Bagaimana tidak, pasar ini telah menjadi pusat kegiatan
ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Pasar
yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia
yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu,
Beringharjo juga merupakan salah satu pilar 'Catur Tunggal' (terdiri dari
Kraton, Alun-Alun Utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan
fungsi ekonomi.
Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan
beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
tepatnya tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh
warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925,
barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama
'Beringharjo' sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang
semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan
(harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang
menyenangkan.
Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat
merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di
sebelah utara bagian depan, dapat dijumpai brem bulat dengan tekstur lebih
lembut dari brem Madiun dan krasikan (semacam dodol dari tepung beras, gula jawa,
dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau
yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari.
Sementara bagian belakang umumnya menjual panganan yang tahan lama seperti
ting-ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang.
Bila hendak membeli batik, Beringharjo adalah tempat
terbaik karena koleksi batiknya lengkap. Mulai batik kain maupun sudah jadi
pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai hampir sejuta
tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat
sebelah utara. Sementara koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar
bagian barat. Selain pakaian batik, los pasar bagian barat juga menawarkan baju
surjan, blangkon, dan sarung tenun maupun batik. Sandal dan tas yang dijual
dengan harga miring dapat dijumpai di sekitar eskalator pasar bagian barat.
Berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, jangan heran
bila mencium aroma jejamuan. Tempat itu merupakan pusat penjualan bahan dasar
jamu Jawa dan rempah-rempah. Bahan jamu yang dijual misalnya kunyit yang biasa
dipakai untuk membuat kunyit asam dan temulawak yang dipakai untuk membuat jamu
terkenal sangat pahit. Rempah-rempah yang ditawarkan adalah jahe (biasa diolah
menjadi minuman ronde ataupun hanya dibakar, direbus dan dicampur gula batu)
dan kayu (dipakai untuk memperkaya citarasa minuman seperti wedang jahe, kopi,
teh dan kadang digunakan sebagai pengganti bubuk coklat pada cappucino).
Pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang
antik. Sentra penjualan barang antik terdapat di lantai 3 pasar bagian timur.
Di tempat itu, anda bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an
yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu
pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam
barang bekas impor seperti sepatu, tas, bahkan pakaian dijual dengan harga yang
jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Tentu
butuh kejelian dalam memilih.
Puas berkeliling di bagian dalam pasar, tiba saatnya
untuk menjelajahi daerah sekitar pasar dengan tawarannya yang tak kalah
menarik. Kawasan Lor Pasar yang dahulu dikenal dengan Kampung Pecinan adalah
wilayah yang paling terkenal. Anda bisa mencari kaset-kaset oldies dari musisi
tahun 50-an yang jarang ditemui di tempat lain dengan harga paling mahal Rp
50.000,00. Selain itu, terdapat juga kerajinan logam berupa patung Budha dalam
berbagai posisi seharga Rp 250.000,00. Bagi pengoleksi uang lama, tempat ini juga
menjual uang lama dari berbagai negara, bahkan yang digunakan tahun 30-an.
Jika haus, meminum es cendol khas Yogyakarta adalah
adalah pilihan jitu. Es cendol Yogyakarta memiliki citarasa yang lebih kaya
dari es cendol Banjarnegara dan Bandung. Isinya tidak hanya cendol, tetapi juga
cam cau (semacam agar-agar yang terbuat dari daun cam cau) dan cendol putih
yang terbuat dari tepung beras. Minuman lain yang tersedia adalah es kelapa
muda dengan sirup gula jawa dan jamu seperti kunyit asam dan beras kencur. Harga
minuman pun tak mahal, hanya sekitar Rp. 1000 sampai Rp. 2000.
Meski pasar resmi tutup pukul 17.00 WIB, tetapi dinamika
pedagang tidak berhenti pada jam itu. Bagian depan pasar masih menawarkan
berbagai macam panganan khas. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan
yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat
bisa dibeli setiap sorenya. Sekitar pukul 18.00 WIB hingga lewat tengah malam,
biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan kikil dan varian
oseng-oseng. Sambil makan, anda bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang
diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab.
Lengkap sudah.
FASILITAS
Pasar Beringharjo telah digunakan sebagai tempat jual
beli sejak tahun 1758. Tawarannya kini kian lengkap; mulai dari batik, jajanan
pasar, jejamuan, hingga patung Budha seharga ratusan ribu.
http://yogyes.com
Http://kotajogja.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar